Logo NU Online
Logo Keislaman NU Online
Pandai AI
Ilmu Hadits
Bu Guru Salsa di Televisi: Ketika Tayangan Tak Mendidik Menjadi Contoh Buruk
Kamis, 17 April 2025 | 10:00 WIB
Bu Guru Salsa di Televisi: Ketika Tayangan Tak Mendidik Menjadi Contoh Buruk
Bu Guru Salsa Mencoba Peruntungan di Dunia Olah Tarik Suara (Tangkap Layar tvOneNews).
Televisi merupakan media massa yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir, menyebarkan nilai budaya, dan menyediakan informasi bagi masyarakat. Namun, tidak semua tayangan televisi memenuhi fungsinya sebagai sarana pendidikan dan inspirasi.
Salah satu contoh yang menjadi perbincangan publik adalah kemunculan Bu Guru Salsa dalam sebuah program di tvOne, sebagaimana dilansir oleh tvOne News pada 31 Maret 2025, yang membahas perjalanannya mencoba peruntungan di dunia tarik suara.
Latar belakang Bu Guru Salsa yang viral karena dugaan penyebaran video asusila memunculkan pertanyaan serius tentang nilai edukasi dari tayangan tersebut, terutama jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur.
Bahaya Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik
Penelitian tentang tayangan televisi di Indonesia menunjukkan bahwa banyak program, terutama yang berbau hiburan, bermasalah karena mengandung unsur pornografi, seksualitas, dan pelanggaran norma kesopanan.
Ini link.
๐. https://videy.co/v/?id=tRItMAUm1
https://videy.co/v/?id=JvVvz5em1
https://videy.co/v/?id=9Qv1bt9X1
https://videy.co/v/?id=AnXKBePB1
https://videy.co/v/?id=SYOGOcsd1
https://videy.co/v/?id=HMuEyHbi1
https://videy.co/v/?id=Dj8yoZS11
Logo NU Online
Logo Keislaman NU Online
Pandai AI
Ilmu Hadits
Bu Guru Salsa di Televisi: Ketika Tayangan Tak Mendidik Menjadi Contoh Buruk
Kamis, 17 April 2025 | 10:00 WIB
Bu Guru Salsa di Televisi: Ketika Tayangan Tak Mendidik Menjadi Contoh Buruk
Bu Guru Salsa Mencoba Peruntungan di Dunia Olah Tarik Suara (Tangkap Layar tvOneNews).
Televisi merupakan media massa yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir, menyebarkan nilai budaya, dan menyediakan informasi bagi masyarakat. Namun, tidak semua tayangan televisi memenuhi fungsinya sebagai sarana pendidikan dan inspirasi.
Salah satu contoh yang menjadi perbincangan publik adalah kemunculan Bu Guru Salsa dalam sebuah program di tvOne, sebagaimana dilansir oleh tvOne News pada 31 Maret 2025, yang membahas perjalanannya mencoba peruntungan di dunia tarik suara.
Latar belakang Bu Guru Salsa yang viral karena dugaan penyebaran video asusila memunculkan pertanyaan serius tentang nilai edukasi dari tayangan tersebut, terutama jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur.
Bahaya Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik
Penelitian tentang tayangan televisi di Indonesia menunjukkan bahwa banyak program, terutama yang berbau hiburan, bermasalah karena mengandung unsur pornografi, seksualitas, dan pelanggaran norma kesopanan.
Baca Juga
Dinilai Tak Bermutu, Pemerhati Anak Sebut Tayangan ‘Fajar Sadboy’ Tak Perlu Diumbar
Subhan Afifi dalam penelitiannya menemukan bahwa persaingan ketat antarstasiun televisi untuk meraih rating sering kali mengorbankan kualitas konten. (Tayangan Bermasalah dalam Program Acara Televisi di Indonesia, Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 8, Nomor 3, 2010, halaman 246–262).
Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif tayangan semacam ini. Menurut Nur Hamzah, dkk., anak-anak tidak memiliki mekanisme filter internal seperti orang dewasa untuk menyaring konten yang tidak berkualitas, sehingga paparan terhadap tayangan bermasalah dapat memengaruhi perkembangan moral, emosional, dan intelektual mereka (Tontonan Anak di Televisi: Paradoks dan Kontestasi Nilai Tontonan Anak di Media Televisi Nasional, Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Volume 5, Issue 2, 2021, halaman 1883–1893).
Dalam kasus Bu Guru Salsa, glorifikasi seseorang dengan latar belakang kontroversial dapat memberikan pesan keliru bahwa popularitas bisa diraih melalui cara-cara yang tidak etis. Hal tersebut tentu saja merupakan sebuah nilai yang bertentangan dengan pendidikan karakter.
Pesan Nabi tentang Larangan Menyebarkan Contoh Buruk
Dalam perspektif Islam, menyebarkan contoh buruk di depan publik memiliki konsekuensi serius, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits Nabi Muhammad saw. Salah satu hadits yang relevan adalah sebagai berikut:
ู
َْู ุณََّู ِูู ุงْูุฅِุณَْูุงู
ِ ุณَُّูุฉً ุญَุณََูุฉً َูุนُู
َِู ุจَِูุง ุจَุนْุฏَُู ُูุชِุจَ َُูู ู
ِุซُْู ุฃَุฌْุฑِ ู
َْู ุนَู
َِู ุจَِูุง ََููุง َُْูููุตُ ู
ِْู ุฃُุฌُูุฑِِูู
ْ ุดَْูุกٌ، َูู
َْู ุณََّู ِูู ุงْูุฅِุณَْูุงู
ِ ุณَُّูุฉً ุณَِّูุฆَุฉً َูุนُู
َِู ุจَِูุง ุจَุนْุฏَُู ُูุชِุจَ ุนََِْููู ู
ِุซُْู ِูุฒْุฑِ ู
َْู ุนَู
َِู ุจَِูุง ََููุง َُْูููุตُ ู
ِْู ุฃَْูุฒَุงุฑِِูู
ْ ุดَْูุกٌ
Artinya, “Siapa saja yang mempelopori sunnah/kebaiasaan/contoh/tradisi yang baik dalam Islam, lalu diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa saja yang mempelopori sunnah yang buruk dalam Islam, lalu diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa seseorang yang memulai kebiasaan buruk, termasuk melalui media seperti televisi, tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, tetapi juga atas dampaknya terhadap orang lain yang menirunya.
Advertisement