UAH juga mengingatkan bahwa sholawat adalah bentuk cinta seorang hamba kepada Nabi Muhammad, dan cinta itu mendapatkan perhatian khusus dari Allah. Dengan bersholawat, seorang Muslim sejatinya sedang memposisikan diri dalam lingkaran cinta Allah dan Rasul-Nya.
Amalan istighfar dan sholawat kepada Nabi Muhammad menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual umat Islam. Keduanya sering dipraktikkan dalam ibadah harian. Namun, muncul pertanyaan menarik: manakah yang lebih utama dan paling berpotensi diterima oleh Allah?
Pertanyaan tersebut dijawab oleh pendakwah muda Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah kajian yang menyinggung keutamaan dua amalan besar tersebut. Ia membandingkan antara istighfar langsung kepada Allah dan sholawat kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk wasilah.
Menurut UAH, dua-duanya memiliki keutamaan tersendiri. Namun, jika ditinjau dari sisi mana yang paling berpotensi diterima oleh Allah, maka sholawat kepada Nabi memiliki keunggulan tersendiri dibanding istighfar.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa istighfar memang bentuk komunikasi langsung kepada Allah. Namun, penerimaannya bergantung pada ketulusan hati seorang hamba ketika memohon ampunan.
Ia mencontohkan banyak orang yang melafalkan istighfar hanya di lisan tanpa kehadiran hati. “Astagfirullah, astagfirullah,” diucapkan sambil memegang handphone, bahkan sembari mengirim pesan atau membuka media sosial.
Dilansir Liputan6.com, Minggu (04/05/2025) dari tayangan video di kanal YouTube @RuhaniSejati, UAH menyampaikan bahwa istighfar yang tidak melibatkan hati, meski baik, belum tentu diterima secara sempurna oleh Allah.
Sebaliknya, ketika seseorang bersholawat kepada Nabi, walaupun baru keluar dari lisan dan belum sepenuhnya tulus, Allah tetap membalasnya dengan sepuluh kebaikan. Ini berdasarkan hadis sahih yang menyebut bahwa siapa yang bersholawat kepada Nabi akan dibalas sepuluh kali kebaikan.
Advertisement