Dalam siklus kalender Hijriah, bulan Sya'ban sering kali diibaratkan sebagai gerbang utama menuju istana yang megah, yaitu bulan suci Ramadhan. Namun, fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah kita cenderung "menyimpan tenaga" dan "menahan harta" di bulan Sya'ban dengan dalih ingin menumpahkannya nanti di bulan Ramadhan. Padahal, logika spiritual para ulama Salafus Shalih justru sebaliknya. Bagi mereka, bulan Sya'ban bukanlah waktu untuk bersantai menunggu Ramadhan, melainkan waktu yang krusial untuk melakukan "Pemanasan" (Warming Up) atau latihan intensif, baik dalam hal puasa, membaca Al-Qur'an, maupun bersedekah.
Ibarat seorang atlet lari maraton, mustahil ia bisa berlari kencang dan mencetak rekor di pertandingan utama (Ramadhan) jika ia tidak melakukan latihan rutin di hari-hari sebelumnya (Sya'ban). Begitu pula dengan kedermawanan. Seseorang yang tidak melatih tangannya untuk memberi di bulan Sya'ban, akan merasa berat dan kaku untuk bersedekah besar-besaran di bulan Ramadhan. Sya'ban adalah waktu terbaik untuk melenturkan sifat kikir dan melatih kepekaan sosial. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa sedekah di bulan Sya'ban memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, serta bagaimana para ulama terdahulu menjadikan bulan ini sebagai momentum untuk menyantuni kaum dhuafa agar mereka siap menyambut bulan puasa.
Sya'ban, Bulan Menyiram Benih Kebaikan
Untuk memahami urgensi sedekah di bulan ini, kita perlu merenungi analogi indah yang disampaikan oleh ulama besar, Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi rahimahullah. Beliau berkata:
"Bulan Rajab adalah bulan menanam benih. Bulan Sya'ban adalah bulan menyiram tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil."
Jika sedekah diibaratkan sebagai tanaman, maka Sya'ban adalah waktu yang paling kritis untuk "menyiramnya". Tanaman yang tidak disiram di bulan Sya'ban akan layu dan mati, sehingga tidak ada yang bisa dipanen saat Ramadhan tiba. Artinya, jika kita ingin memanen pahala sedekah yang berlimpah dan kemudahan rezeki di bulan Ramadhan, kita harus mulai "menyiram" harta kita dengan mengeluarkannya di jalan Allah sejak bulan Sya'ban. Sedekah di bulan ini adalah bukti keseriusan kita dalam merawat pohon keimanan. Jangan sampai kita ingin panen raya di Ramadhan, tapi malas menyiram di Sya'ban.
3 Keutamaan Bulan Sya'ban
1. Sedekah di Saat Manusia Lalai (Ghaflah)
Salah satu nilai tambah sedekah di bulan Sya'ban adalah faktor waktu. Rasulullah SAW menyebut Sya'ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia karena terhimpit oleh dua bulan mulia (Rajab dan Ramadhan).
Rasulullah SAW bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
Artinya: "Itu (Sya'ban) adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan." (HR. An-Nasa'i)
Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif menjelaskan bahwa beribadah (termasuk bersedekah) di waktu manusia lain sedang lalai memiliki nilai pahala yang sangat tinggi. Mengapa? Karena sedekah di saat orang lain sibuk menahan harta (menabung untuk lebaran atau belanja konsumtif) menunjukkan keikhlasan yang murni. Tidak ada motif riya' (pamer) karena tidak ada euforia massal seperti di bulan Ramadhan. Sedekah di keheningan Sya'ban adalah sedekah kaum Shiddiqin (orang-orang yang jujur keimanannya).
2. Membantu Dhuafa Kuat Berpuasa
Ini adalah aspek sosial yang sangat ditekankan oleh para ulama Salaf. Sedekah di bulan Sya'ban memiliki fungsi strategis: Logistik Ramadhan bagi Fakir Miskin.
Kita mungkin sibuk menyetok kurma, sirup, dan daging untuk persiapan Ramadhan keluarga kita. Namun, bagaimana dengan tetangga kita yang miskin? Bagaimana mereka bisa menyambut Ramadhan dengan sukacita jika untuk makan sahur hari pertama saja mereka bingung?
Diriwayatkan bahwa ketika masuk bulan Sya'ban, para ulama dan orang kaya di kalangan Salaf akan:
- Mengeluarkan Zakat Mal mereka lebih awal (Ta'jil Zakat).
- Memperbanyak sedekah makanan.
Tujuannya sangat mulia agar kaum fakir miskin memiliki bekal yang cukup sehingga mereka kuat melaksanakan puasa Ramadhan dan bisa fokus beribadah tanpa dipusingkan oleh urusan mencari makan. Jika kita bersedekah di bulan Sya'ban, dan sedekah itu menjadi makanan yang menjadi darah daging orang miskin, lalu energi itu mereka gunakan untuk shalat Tarawih dan puasa Ramadhan, bayangkan aliran pahala jariyah yang mengalir kepada kita!
3. Latihan Melepas Kemelekatan Hati
Manusia memiliki sifat dasar mencintai harta (Hubbud Dunya). Ramadhan menuntut pengorbanan harta yang besar (Zakat Fitrah, Sedekah Buka Puasa, Infak Masjid). Jika tidak dilatih, hati akan terasa berat.
Sya'ban adalah Training Centre (Pusat Pelatihan). Dengan mulai merutinkan sedekah harian atau pekanan di bulan Sya'ban, kita sedang melatih otot-otot kedermawanan kita.
Jika di Sya'ban kita terbiasa memberi Rp 10.000, maka di Ramadhan kita akan ringan memberi Rp 50.000.
Jika di Sya'ban kita terbiasa memberi makan 1 orang, di Ramadhan kita akan ringan memberi makan 10 orang.
Rasulullah SAW adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau memuncak di bulan Ramadhan seperti angin yang berhembus. Kita tidak akan bisa meniru "angin yang berhembus" itu jika di bulan Sya'ban kita masih menjadi "batu yang diam".
Sedekah Menghapus Dosa
Mengingat Sya'ban adalah bulan pelaporan amal tahunan (Raf'ul A'mal), maka sangat tepat jika kita menutup buku catatan tahunan kita dengan sedekah. Sedekah memiliki kekuatan menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
Artinya: "Dan sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi)
Sebelum buku amal diangkat ke langit pada bulan Sya'ban ini, mari kita "hapus" noda-noda hitam di dalamnya dengan perbanyak sedekah, agar laporan yang sampai kepada Allah adalah laporan yang bersih dan bercahaya.
Saudaraku, bulan Sya'ban akan segera berlalu meninggalkan kita. Jangan biarkan ia pergi hanya sebagai penanda waktu di kalender. Jadikan Sya'ban sebagai ladang amal yang nyata. Ingatlah, Ramadhan adalah tamu agung. Tuan rumah yang baik akan menyiapkan jamuan terbaik sebelum tamunya datang, bukan saat tamunya sudah duduk. Maka, persiapkanlah "jamuan" amal kita, bersihkan harta kita, dan santuni saudara kita di bulan Sya'ban ini.
Semoga Allah SWT memberkahi harta kita, melembutkan hati kita untuk berbagi, dan mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan iman yang prima dan jiwa yang dermawan.
Awali Kebaikan Ramadhan dari Sekarang
Jangan menunggu Ramadhan tiba untuk menjadi pahlawan bagi mereka yang membutuhkan. Banyak saudara kita yang saat ini cemas memikirkan bekal untuk sahur dan berbuka nanti.
Jadilah jembatan rezeki bagi mereka. Salurkan sedekah persiapan Ramadhan Anda melalui Baitulmaal Muamalat (BMM). Donasi yang Anda berikan di bulan Sya'ban ini akan kami salurkan untuk memastikan dhuafa memiliki stok pangan yang cukup, sehingga mereka bisa menyambut Ramadhan dengan senyuman, sama seperti Anda. Latihan Dermawan Sekarang,
Advertisement