Dai muda kebanggaan rakyat Aceh, Tgk Habibi An Nawawi, menyampaikan pesan mendalam kepada para santri tentang pentingnya keikhlasan, disiplin, dan peran doa orang tua dalam menuntut ilmu.
Pesan tersebut disampaikan di hadapan ribuan para santri dan masyarakat dalam kegiatan Talkshow & Dakwah Inspiratif bersama Tgk Habibi An Nawawi di Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Aceh Besar, Minggu (5/4/2026) malam.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh berkolaborasi dengan Tastafi Banda Aceh, dan didukung penuh oleh Yayasan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee.
Dalam tausiahnya, Tgk Habibi menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak terlepas dari doa orang tua dan bimbingan para guru.
“Sejatinya kita hidup hanya menumpang pada doa orang tua. Berkat doa mereka, doa guru-guru, dan Bapak/Ibu sekalian, alhamdulillah saya bisa berdiri di sini,” ujarnya.
Ia juga mengajak para santri untuk tidak hanya mengejar ilmu, tetapi juga mengamalkannya.
Menurutnya, banyak orang yang telah memperoleh ilmu, namun gagal mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kunci ilmu itu ada dua, yaitu amal dan disiplin. Ilmu akan menjadi berkah jika diamalkan, dan kesuksesan bisa diraih dengan kedisiplinan,” kata Tgk Habibi yang juga juara Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Ia menilai, kesalahan niat menjadi salah satu penyebab seseorang berat dalam beramal.
“Kalau niat kita hanya untuk mengajar, maka selesai di situ. Tapi kalau niat kita untuk menghidupkan Islam, maka selama hidup kita akan terus beramal,” jelasnya.
Tgk Habibi juga menyinggung fenomena di mana semangat ibadah seseorang menurun setelah tidak lagi berstatus sebagai santri.
Padahal, menurutnya, justru setelah memiliki ilmu, tanggung jawab untuk beramal semakin besar.
Selain itu, ia menekankan bahwa kemampuan berbicara harus dibarengi dengan dasar agama yang kuat. Tanpa itu, kata dia, kepandaian berbicara justru bisa menjerumuskan.
“Hati-hati jika kita pintar berbicara tapi tidak dibangun atas dasar agama dan takwa. Yang keluar bisa nilai-nilai yang menyimpang,” ungkapnya.
Di hadapan para santri, Tgk Habibi juga mengajak untuk terus belajar hingga benar-benar memahami agama secara mendalam.
Ia menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh di dayah harus menjadi bekal saat kembali ke tengah masyarakat.
“Mengajilah sampai benar-benar paham agama. Karena suatu saat kalian akan kembali ke kampung halaman dan membawa nilai-nilai yang kalian dapatkan di sini,” tuturnya.
Menutup tausiahnya, Tgk Habibi mengingatkan bahwa tujuan utama menuntut ilmu adalah mencapai derajat ihsan, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, atau setidaknya meyakini bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan.
“Kita hadir di sini (di dayah) untuk menjemput derajat ihsan, derajat tertinggi dalam beragama,” pungkasnya. (Akhyar)
Advertisement